Negara Karut Marut

Negara Karut Marut
Ketua Majlis Syura Dewan Dakwah Aceh dan Dosen Siyasah pada Fakultas Syari’ah & Hukum UIN Ar-Raniry Banda Aceh, Dr. Tgk. Hasanuddin Yusuf Adan, MCL, MA. (Doc: Harian Reportase)  

Oleh : Dr. Hasanuddin Yusuf Adan

KALAM PEMBUKA

Judul artikel ini sepintas mengandung makna negatif untuk mendeskripsikan sebuah negara di belahan bumi ini. Namun di sisi lain memang ada dan bahkan banyak negara yang karut marut dalam kehidupan ummat manusia dari dahulu sampai sekarang. Istilah karut marutpun sepertinya jarang digunakan untuk menggambarkan suasana tidak menentu pada suatu tempat, yang sering digunakan malah perkataan carut marut. Padahal terdapat perbedaan yang lumayan besar antara kedua istilah tersebut, mengikut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) carut marut berarti: bermacam-macam perkataan yang keji; segala coreng moreng (bekas goresan); goresan yang tidak keruan arahnya, seperti: muka korban penuh dengan carut marut dan berdarah.

Sementara istilah karut marut bermakna kusut (kacau); rusuh dan bingung; banyak bohong dan dustanya; berkerut-kerut tidak keruan. Menyimak makna kedua istilah tersebut yang tertera dalam KBBI, maka judul artikel ini dapat dipastikan kalau penulis mau menggambarkan bagaimana kondisi suatu negara yang tidak menentu pengelolaannya oleh para penguasa yang karut marut dan sekaligus yang carut marut. Memang dalam kehidupan ummat manusia di negara yang menggunakan bahasa Melayu istilah carut marut sering muncul untuk mengilustrasikan sebuah negara yang jauh dari ketentuan konstitusi atau bahkan yang melanggar konstitusi.

Ketika ada negara yang para penguasanya berusaha dengan bersahaja ingin menentang atau merobah konstitusi dengan berbagai cara kejam atau muslihat, itu bermakna negara tersebut dapat dimasukkan kedalam kategori negara karut marut. Umpamanya ada negara yang tidak mampu menjalankan hukum dan undang-undang sebagaimana mestinya terhadap warga negaranya, atau gagal memberikan kesejahteraan terhadap rakyatnya, atau para penguasa dengan alat negara yang bersenjata membunuh rakyat yang mengawal guru mereka lalu gurupun ditangkap karena tidak mau ikut penguasa yang dhalim, atau malah negara melakukan state crimes against humanity. Ketika itu yang terjadi maka sahlah sebuah negara itu disebut sebagai negara karut marut.

TUJUAN NEGARA

Secara umum, fungsi dan tujuan negara antara lain melaksanakan ketertiban, pertahanan, keamanan, hingga menegakkan keadilan. Menurut AristotelesTujuan negara adalah suatu kesempurnaan warganya berdasarkan azas keadilan. Keadilan memerintah harus menjelma di dalam negara dan hukum berfungsi memberi kepada setiap manusia, apa sebenarnya yang berhak mereka terima. Sementara tujuan negara menurut John Locke adalah untuk memelihara dan menjamin terlaksananya hak-hak azasi manusia yang tertuang dalam perjanjian masyarakat. Niccollo Maciavelli berpendapat: tujuan negara adalah untuk mengusahakan terselenggaranya ketertiban, keamanan dan ketentraman. Sedangkan menurut Plato, tujuan negara adalah untuk memajukan kesusilaan manusia, baik sebagai makhluk individu maupun sosial.

Dalam Islam sebuah negara itu didirikan untuk mempertahankan ‘aqidah warga nagaranya, untuk mensosialisasikan dan mengaplikasikan syari’ahnya, untuk memberikan kedamaian dan kedamaian dunia, dan untuk memperlebar wilayah ke-Islamnnya. Itu deskripsi sebahagian yang dilakukan oleh Rasulullah SAW baik di Madinah maupun di Makkah. Manakala wilayah Islam semakin meluas di berbagai belahan dunia pada masa sistem khilafah maka tujuan tersebut ikut semakin berkembang pula sehingga warga non muslim lebih aman, tenang dan tenteram hidup dalam wilayah negara Islam.

Ketika sampel tersebut tidak dilaksanakan oleh ummat Islam hari ini malah sebaliknya yang dilakukan seperti di Indonesia, pemerintah tersebut bukan sekedar bertentangan dengan sunnah Rasulullah SAW dan Khalifaurrasyidin melainkan pemerintah negara mayorits muslim yang juga beragama Islam sudah melakukan satu kefatalan yang keluar dari sebuah kewajaran dan kewarasan ibarat pemain bola yang mencetak goal kegawang sendiri. Ini mengindikasikan bahwa penguasa negara semacam itu tidak berpedoman dan tidak berpegang kepada tugas negara yang diberikan oleh para pakar baik dalam konteks Islam maupun di luarnya.

Ketika seorang kepala negara yang diikuti oleh para kakitangannya bersama-sama meninggalkan rumusan kebenaran dari teori-teori yang dipaparkan kaum intelektual sebagai pakar dalam bidangnya yang dipelajari di berbagai perguruan tinggi di seluruh dunia maka para penguasa negara itu patut diberi gelar sebagai penguasa karut marut dalam negara yang karut marut pula. Cepat atau lambat rezim semisal itu akan berhadapan dengan perlawanan rakyatnya sendiri baik berakhir dengan sopan dan muslihat ataupun selesai dengan sadis dan kejam seperti yang sudah pernah terjadi di Filipina ketika Ferdinand Marcos (30 Desember, 1965 – 25 Februari, 1986), Nicolae Ceaușescu (9 Desember 1967 – 22 Desember 1989) di Romania yang diusir dan dibunuh oleh rakyatnya sendiri. Ketika itu yang terjadi maka para kakitangan yang sebelumnya beramai-ramai membantu, mendukung dan memujanya akan bergeser satu persatu.

RESIKO NEGARA KARUT MARUT

Berpacu kepada definisi tujuan negara yang diberikan oleh para pakar politik dunia yang kita sebutkan di atas dan juga tujuan lahirnya sebuah negara dalam Islam, maka sebuah negara yang ideal dan normal dapat disimpulkan sebagai negara yang wujudnya keadilan, berjalannya hukum, tegaknya HAM, wujudnya ketertiban dan keamanan, majunya kesusilaan dan serasi kehidupan warganya dalam kategori beragam kaum terhadap rakyatnya. Keluar dari itu maka jadilah negara tersebut sebagai negara yang berpredikat negara karut marut.

Ketika ada suatu negara yang para penguasanya baik dari kalangan eksekutif, legislatif maupun yudikatif atau bahkan konco-konconya yang dibayar berkoar-koar dengan issue Hak Azasi Manusia (HAM), berkoar-koar dengan ucapan: aku adalah konstitusionalis, aku adalah negaralis dan semacamnya tetapi mereka membunuh warganya secara terang-terangan, menipu rakyatnya dalam musim terang, membelot ideologi negara untuk diganti dengan ideologi yang dibenci oleh negara dan para pendiri negara, memiskinkan rakyatnya dengan berhutang sepanjang kekuasaan, maka para penguasa tersebut sudah menjerumuskan negara kelembah dan jurang hitam yang bertentangan dengan tujuan wujudnya sebuah negara dan negara tersebut layak dipatok sebagai negara karut marut.

Negara karut marut itu biasanya selalu mengedepankan obsessi positif untuk membungkam keadilan, melanggar HAM dan meniadakan kesejahhteraan. Dengan obsesi tersebut warganegara kalangan bawah mudah sekali termakan issue obsessi positif yang sebenarnya helah dan pengalihan issu negatif untuk merunyamkan kesejahteraan warganegara demi terwujudnya kesejahteraan anggota kelompok, kaum dan keluarga. Itulah yang sering wujud dalam sebuah negara karut marut.

Akibat prilaku penguasa yang diam seribu bahasa terhadap ketimpangan kakitangannya dapat memunculkan kesan kalau kalau penguasa sendiri yang menciptakan suasana karut marut untuk dapat membangkitkan pahlawan kesiangan dari kalangan mereka. Seandainya analisa tersebut benar maka penguasa harus siap menerima resiko yang bakal muncul dari prilaku tersebut, resiko itu boleh jadi positif boleh jadi juga negatif. Kalau kemungkinan terakhir yang terjadi maka pemerintah atau penguasa telah menabur angin dan tinggal menunggu masa untuk menuai badai. Pepatah Melayu mengatakan: siapa yang menabur angin dialah yang bakal menuai badai, artinya pelaku kejahatan dalam bentuk apapun ia identik dengan telah menabur angin, sebagai konsekwensinya maka ia harus siap untuk menuai badai sesuai dengan kadar angin yang ditabur.

Resiko lain yang bakal muncul dalam gambaran lebih transparan adalah; ketika penguasa tamat kuasanya tidak ada orang yang mau bersamanya, ia dibenci oleh rakyat, diusir dan malah boleh jadi dieksekusi oleh mantan rakyatnya sendiri yang dahulu didiskriminasinya. Kasus Nicolae Ceaușescu yang dieksekusi rakyat sendiri di Romania bisa menjadi contoh barang untuk hari ini. Demikian juga dengan kasus Ferdinand Marcos yang diusir rakyatnya dari Filipina dan lari ke Amerika Serikat, demikian juga dengan kasus-kasus serupa lainnya. Semua itu terjadi akibat salah urus negara ketika mereka berkuasa yang dengan sengaja menciptakan suasana negara karut marut. Fenomena negara karut marut itu boleh saja muncul di Eropa, di Afrika, di Australia dan boleh juga terjadi di Asia, hanya momentum sajalah yang dapat mengaturnya. Negara karut marut adalah negara yang di dalamnya wujud penipuan, wujud pembunuhan yang melanggar HAM, wujud pemasukan immigran gelap, wujud penangkapan semena-mena, dan seumpamanya.

Penulis adalah Dosen Siyasah pada Fakultas Syari’ah dan Hukum UIN Ar-Raniry. Email : diadanna@yahoo.com

Terbit : 5 Januari 2021

Sumber: Harian Reportase

Post a Comment

Previous Post Next Post