Taliban: Kami Tak Seperti ISIS dan Tak Pula Memusuhi Syi'ah.

Kedatangan delegasi Taliban yang dipimpin Maulawi Khairallah di Teheran benar-benar mengejutkan para pengamat politik internasional. Dalam konpersnya Maulawi terang-terangan menyebut Iran sebagai negara tetangga yang paling bersahabat, jujur, netral, tanpa pamrih, selama ini terus membantu mengupayakan terciptanya perdamaian di negeri Afganistan. Iran juga negara yang paling gigih menekan pasukan koalisi internasional pimpinan Amerika untuk secepatnya keluar dari Afganistan.

Beberapa pernyataan Maulawi Khairullah :

1. Berbeda dengan ISIS.

Taliban berkonfrontasi dengan ISIS hingga banyak anggotanya yang gugur. ISIS jauh berbeda dengan Emirat Islam Afghanistan (Islamic Emirate of Afghanistan/IEA yang didirikan pada tahun 1996 ketika Taliban mulai memerintah Afganistan dan berakhir dengan kejatuhan mereka dari kekuasaan pada tahun 2001.

2. Tidak Punya Hubungan dengan Saudi.

Sejauh pengetahuan saya, ketika IEA jatuh dan AS datang dan menduduki Afghanistan, ada komunikasi-komunikasi dengan Arab Saudi, tapi sebagaimana dahulu kami tak menjalin hubungan dengannya. Dari jumlah kunjungan kami Anda dapat menebak bahwa sebagaimana dahulu hubungan kami tak banyak atau bahkan tidak ada, dan kami tak mengadakan kunjungan-kunjungan terbuka ke Saudi.

3. Menyantuni Tentara Yang Menyerah.

Rakyat mengetahui bahwa pemerintah (Afghanistan sekarang) tak akan bertahan lama. Mereka akan jatuh. Kami tak menyerang kota-kota besar adalah demi kehati-hatian dan menghindari jatuhnya banyak korban sipil, naudzu billah. Kami mampu membebaskan kota-kota besar, tapi sejauh ini para petinggi kami tak menginstruksikannya.

4. Menghormati Kaum Muslim Syi'ah.

Sebelum IEA berdiripun kami sudah biasa berkunjung ke masjid-masjid Syiah, beramah tamah di sana, dan menjalin hubungan persaudaraan Islam dengan Syiah. Musuh-musuh kami menyalah gunakan isu Sunni-Syiah, dan ini bukanlah sesuatu yang spesial. Kami mengakui kredibilitas orang-orang Syiah. Mereka adalah bagian dari Afghanistan, dan kami dengan tegas memaklumkan bahwa isu kedaerahan, mazhab, ras dan bahasa sama sekali tidak ada pada kami.

Kami tak bersedia mengkafirkan orang-orang yang mengucapkan kalimat “la ilaha illa Allah” dan mendirikan shalat, dan inilah yang justru mendorong kami berperang dengan ISIS, yang menganggap mereka sebagai kafir dan menghalalkan darah mereka.

5. Fitnah Pembantaian Muslim Syi'ah

Tragedi (pembantaian kaum Muslim Syi'ah di) Mazar Sharif terjadi di tengah situasi perang, dan bertujuan menebar perselisihan dan fitnah. Masyarakat tak boleh percaya kepada isu-isu seperti ini, dan harus menjauhinya. Persoalan harus diselesaikan dengan dialog dan saling pengertian.

Mujahidin IEA tidak memasuki daerah-daerah berpenduduk Syiah adalah supaya tidak terjadi kesalah fahaman. Selagi ada dialog antara IEA dan Syiah, saya kira tak dapat dibenarkan aksi menyulut pertikaian dan membangkitkan sensitivitas masyarakat. Masyarakat tak seharusnya memperhatikan provokasi pihak-pihak lain. Tragedi itu terjadi akibat provokasi.

Saya ingin menyebutkan satu hal; semua kawasan di Qandahar dan daerah-daerah Pashtu telah jatuh dan dikuasai (Taliban). Tapi kami tak memasuki daerah-daerah berpenduduk Syiah. Kami tak memasukinya adalah karena berharap terjadi kesefahaman melalui dialog. Kami tak bergerak maju ke kawasan-kawasan suku Hazara/Hezareh (yang bermazhab Syiah) karena sejauh ini belum ada kesefahaman antara kami dan mereka. Tapi kami menginginkan persoalan diselesaikan melalui jalur dialog.

Banyak pihak mencurigai peran intelijen Iran yang diam-diam membantu persenjataan Taliban, hal ini terlihat setelah hengkangnya pasukan Amerika tiba-tiba Taliban merajalela merebut banyak wilayah kekuasaan pemerintah Afganistan.[]

Post a Comment

Previous Post Next Post